Tahap-Tahap Pengujian LPG

Gas yang dihasilkan akan ditambah tekanannya serta suhunya diturunkan agar mengalami pergantian wujud dari fase gas jadi fase cair. LPG sendiri terdiri senyawa hidrokarbon bersama dengan komponen utamanya yaitu propana dan butana.

 

Pengujian Gas LPG

Untuk meyakinkan kualitas LPG maka dilakukan beberapa tahap pengujian bersama dengan target mendapatkan LPG bersama dengan standar kualitas yang telah ditetapkan. Adapun pengujian yang dimaksud terdiri dari pengujian komposisi, persentase sulfur, Specific Gravity, persentase air bebas, tekanan uap, weathering test (endapan) dan sifat pengkaratan.

 

1. Pengujian Specific Gravity (SG) 60/60°F

Pengujian Spesific Grafity LPG mempunyai tujuan untuk mendapatkan knowledge yang digunakan untuk perhitungan material balance di dalam proses pengolahan, untuk perhitungan berat LPG yang ditampung di dalam area penimbunan berdasarkan volume yang telah diketahui agar bisa digunakan sebagai perhitungan di dalam perihal pemasaran atau perdagangan, dan untuk perhitungan blending LPG, sekiranya terjadi penyimpangan SG 60/60°F.

Dalam prakteknya, pengujian SG ini gunakan metode ASTMD 1657, bersama dengan gunakan suatu alat yang disebut Pressure Hydrometer Cylinder, atau termasuk bersama dengan perhitungan dari komposisi LPG bersama dengan metode ASTMD 2163 gunakan kromatografi gas. Untuk hasil pengujiannya sendiri, diisyaratkan untuk LPG Propana yaitu dari range 0,508-0,525, LPG butana 0,563-0,627, pas untuk LPG campuran 0,507-0,627.

Dalam suatu kasus, sekiranya pengujian untuk LPG Propana diperoleh hasil di bawah 0,508, suasana selanjutnya menunjukkan bahwa LPG propana yang diuji didalamnya terdapat komponen mudah yaitu etana. Etana ini akan memicu meningkatnya tekanan uap terhadap LPG tersebut, bersama dengan meningkatnya tekanan uap maka akan amat berbahaya pas dilakukan penyimpanan serta penyaluran.

Sedangkan sekiranya hasil pengujiannya di atas 0,525, suasana selanjutnya menunjukkan bahwa LPG propana mengandung butana, di mana butana ini merupakan komponen yang lebih berat agar akan memicu menurunnya tekanan uap. Dengan menurunnya tekanan uap terhadap LPG maka akan memperlambat proses penguapan dan condong menginggalkan endapan.

Sementara untuk pengujian LPG Butana, sekiranya diperoleh hasil di bawah 0,563 maka suasana selanjutnya menunjukkan LPG butana lebih banyak mengandung propana. Dengan dominanya unsur propana maka akan meyebabkan peningkatan tekanan uap LPG, suasana ini amat rentan menyebabkan ledakan. Sementara sekiranya hasil pengujian menunjukkan angka di atas 0,627, maka mengindikasikan LPG butana mengandung pentana yang merupakan komponen yang lebih berat agar memicu tekanan uap rendah dan termasuk meninggalkan endapan.

Untuk LPG campuran, sekiranya pengujian SG 60/60°F menunjukkan hasil di bawah 0,507, suasana ini mengindikasikan bahwa perbandingan pada propana–butana lebih dominan persentase propana (umumnya perbandingannya 30% propana dan 70% butana).

Hal selanjutnya akan memicu tekanan uap LPG mengalami peningkatan, agar mudah menguap dan membahayakan pas dilakukan penyimpanan dan penyaluran. Sedangkan sekiranya pengujian SG di atas 0,627, hasil selanjutnya menunjukkan perbandingan propana bersama dengan butana lebih banyak persentase butana. Kondisi ini akan memicu tekanan uap jadi rendah agar LPG campuran tidak cepat menguap dan akan meninggalkan endapan.

 

2. Pengujian Komposisi LPG

Pengujian ini mempunyai tujuan untuk tahu senyawa apa saja yang terdapat di dalam LPG selanjutnya dikarenakan sifat pembakaran atau nilai kalor LPG mengenai bersama dengan komposisi yang tersedia di dalamnya. Perlu diketahui bahwa LPG bisa dihasilkan dari 3 sumber, yaitu dari kilang gas alam, kilang distilasi minyak (CDU), dan dari kilang perengkahan (thermal cracking maupun catalytic cracking).

LPG yang diperoleh dari kilang Gas Alam, dan kilang Crude Distillation Unit (CDU) tidak mengandung olefin (ikatan rangkap dua), pas LPG yang berasal dari kilang perengkahan mengandung ikatan rangkap dua (olefin) dengan Flow Meter. Karena LPG dari kilang Gas Alam dan kilang CDU tidak mempunyai ikatan rangkap dua agar mempunyai sifat pembakaran (nilai kalor) yang lebih tinggi.

Pengujian komposisi ini dilakukan bersama dengan gunakan alat yang disebut kromotografi gas, dan menerapkan metode ASTMD 2163. Komposisi yang diperoleh dinyatakan sebagai komponen hidrokarbon, dan dilaporkan di dalam satuan prosen vol. Disyaratkan untuk LPG propana, minimum persentase C3 yaitu 95 prosen vol, untuk LPG butana bersama dengan persentase C4 minimum 97,5% vol, pas untuk LPG campuran persentase C3 + C4 keseluruhan minimum 97,5 prosen vol.

 

3. Pengujian Tekanan Uap

Pengujian tekanan uap terhadap LPG adalah untuk mendapatkan knowledge tekanan di mana knowledge selanjutnya berfaedah untuk menanggung keselamatan/keamanan di dalam penyimpanan, pengangkutan dan penyaluran LPG, khususnya penyaluran di wilayah yang mempunyai iklim yang berubah-ubah. Apabila LPG terpapar panas, maka akan memicu LPG mengalami penguapan dan diikuti bersama dengan meningkatnya tekanan agar suasana selanjutnya bisa memicu terjadinya ledakan. Selain untuk segi keamanan, pengujian ini termasuk digunakan untuk kepentingan perhitungan blending atau pencampuran sekiranya terjadi penyimpangan tekanan uap.

Dalam prosesnya, pengujian tekanan uap ini gunakan alat yang disebut Reid Vapor Pressure Apparatus (RVP) bersama dengan gunakan metode ASTMD 1267, atau bisa termasuk bersama dengan gunakan perhitungan dari komposisi LPG menurut metode ASTMD 2168 bersama dengan alat kromatografi gas. Dari kedua metode pengujian tersebut, biasanya langkah yang paling kerap digunakan yaitu bersama dengan perhitungan dari knowledge komposisi LPG. Tekanan uap LPG dinyatakan sebagai tekanan uap terhadap suhu 100°F, serta dinyatakan di dalam wujud satuan psig. Untuk LPG Propana, tekanan uap terhadap 100°F yang diisyaratkan maksimum 100 psig, LPG butana maksimum 70 psig, dan LPG Campuran maksimal 120 psig.

Dalam suatu kasus, sekiranya pengujian tekanan uap LPG Propana diperoleh hasil di atas 210 psig, maka LPG selanjutnya mengandung komponen etana yang merupakan komponen ringan. Adanya komponen mudah di di dalam LPG akan memicu naiknya tekanan uap agar berbahaya pas dilakukan penyimpanan maupun penyaluran.

Untuk LPG Butana, sekiranya pengujian tekanan uap di atas 70 psig mengindikasikan bahwa LPG selanjutnya mengandung propana di dalam kuantitas yang lebih banyak agar bisa menaikkan tekanan uap. Meningkatnya tekanan uap bisa menyebabkan risiko ledakan pas dilakukan penyimpanan maupun penyaluran.

Sementara untuk pengujian LPG Campuran, sekiranya pengujiannya diperoleh tekanan uap di atas 120 psig, maka perbandingan pada propana bersama dengan butana lebih banyak persentase propana. Banyaknya persentase propana termasuk akan mempengaruhi tekanan uap, diamana tekanan uap akan meningkat dan mempercepat penguapan agar amat berisiko, khususnya risiko terjadinya ledakan pas penyaluran dan penyimpanan.

 

4. Weathering Test

Weathering test adalah sifat kemudahan penguapan LPG. Tujuan pengujian ini ialah untuk tahu kecenderungan terjadinya pengendapan/deposit dari LPG baik itu dikala di di dalam tabung maupun ditempat penampungan lainnya, seperti di tangki timbun serta tangki kapal. Adanya endapan mengindikasikan ada komponen berat yang turut terlarut di di dalam LPG.

Weathering test ditetapkan terhadap suhu 34°F dan dilaporkan di dalam wujud prosen volume. Untuk standarnya sendiri, hasil weatering test diisyaratkan minimum 95% volume, baik itu untuk LPG Propana, LPG Butana maupun LPG Campuran. Pengujian ini gunakan beberapa alat, meliputi penangas air, termometer, kumparan pendingin, pengujiannya pun gunakan metode ASTMD 1837.

Dalam prakteknya, sekiranya weathering test untuk LPG Propana hasilnya tidak cukup dari 95% volume dari yang teruapkan, perihal ini mengindikasikan bahwa LPG ini mengandung komponen butana. Untuk LPG Butana, sekiranya hasil weathering test tidak cukup dari 95%, bisa dipastikan terdapat komponen pentana di dalam LPG. Sementara untuk pengujian LPG Campuran, sekiranya hasil weathering test tidak cukup dari 95%, artinya perbandingan pada campuran komponen propana dan butana lebih banyak komponen butana.

 

5. Copper Strip Corrosion

Copper strip corrosion adalah pengujian sifat pengkaratan dari LPG. Sifat pengkaratan terhadap LPG disebabkan oleh ada persentase senyawa Hidrogen Sulfida (H2S) dan Merkaptan Sulfur (RSH), bersama dengan kata lain kedua senyawa selanjutnya merupakan senyawa pengotor yang kehadiraanya tidak dikehendaki. Dalam hasil pegujiaan copper strip corrosion diisyaratkan untuk LPG Propana, LPG Buatan, serta LPG Campuran maksimum ASTM No.1.

Dalam prakteknya, pengujian sifat pengkaratan LPG ini dilakukan bersama dengan menerapkan metode ASTM D 1838, bersama dengan alat yang terdiri dari tabung silinder tahan tekanan, yang ditambah penangas air, skala warna, termometer dan lempengan tembaga. Untuk durasinya sendiri, pengujian ini dilakukan selama 1 jam bersama dengan temperatur 100°F.

Dalam suatu kasus, sekiranya diperoleh hasil pengujin copper strip corrosion terhadap LPG berada di atas ASTM No. 1, perihal ini menunjukkan bahwa LPG yang diuji di dalamnya terdapat senyawa yang bisa menyebabkan korosi. Seperti yang diketahui pada mulanya bahwa senyawa yang dimaksud bisa saja Hidrogen Sulfida maupun merkaptan. Dalam suasana ini, biasanya akan dilakukan pengurangan/penurunan persentase senyawa pengotor selanjutnya bersama dengan metode pencucian gunakan larutan kaustik.

 

6. Total Sulfur

Pengujian kuantitas keseluruhan sulfur adalah suatu tahap pengujian untuk tahu kebersihan LPG. Pengujian ini dilakukan bersama dengan metode ASTMD 2784 Wickbold – style combustion apparatus. Dinyatakan sebagai pengujian keseluruhan sulfur dikarenakan merupakan penjumlahan dari bermacam style senyawaan sulfur yang terlarut di dalam LPG, adapun senyawaan sulfur yang dimaksud terdiri dari hidrogen sulfida( H2S), etil merkaptan (RSH), sulfur dioksida (SO2), karbonil sulfida (COS), dimetil sulfida (CH3)2S dan dimetil disulfida (CH3)2S2.

Senyawaan sulfur yang terlarut dikategorikan sebagai impurities (senyawa pengotor). Terlarutnya senyawa pengotor di dalam produk LPG akan berdampak terhadap kualitas nilai bakar LPG tersebut. Hasil pengujian ini dilaporkan di dalam satuan grains/100 cuft, prosen massa, ppm atau mg/100cuft. Dalam praktik pengujiannya, keseluruhan sulfur untuk LPG Propana, LPG Butana, dan LPG Campuran disyaratkan maksimum 15 grains/100 cuft.

Tahap pengujian ini mempunyai manfaat yang amat perlu dikarenakan hasil yang diperoleh akan mengindikasikan kecenderungan terjadinya penurunan nilai kalori terhadap LPG, di mana tambah tinggi persentase sulfur yang terlarut maka akan menindikasikan menurunnya nilai kalori LPG. Selain turunkan nilai kalori, persentase sulfur termasuk akan memicu terjadinya korosi, khususnya terhadap dinding tangki maupun pipa-pipa penyalur. Disamping itu, ada senyawaan sulfur termasuk akan mempengaruhi pembakaran, di mana hasil pembakaran akan meninbulkan asap yang sudah pasti akan berdampak jelek bagi lingkungan.

Dalam praktik pengujiannya, sekiranya hasil pengujian menunjukkan keseluruhan sulfur di atas 15 grains/100 cuft, maka bisa dipastikan LPG selanjutnya didalamnya terdapat senyawaan sulfur yang memadai signifikan. Dengan kuantitas selanjutnya dikhawatirkan akan menyebabkan korosi terhadap peralatan logam, tak hanya itu termasuk akan memicu penurunan kalori dan menyebabkan pencemaran udara dikarenakan hasil pembakaran yang buruk.

 

7. Kandungan Air Bebas

Pengujian persentase air bebas terhadap LPG betujuan untuk mengindikasi terjadinya pembentukan air kristal terhadap LPG khususnya terhadap suhu rendah. Air kristal ini berwujud senyawaan Hidrokarbon hidrat, seperti propana hidrat, propilena hidrat, butana hidrat, butilena hidrat, dan pentana hidrat. Terbentuknya hidrat ini akan menyebabkan sumbatan terhadap proses penyaluran, tak hanya itu termasuk akan memicu kebuntuan terhadap proses pengkabutan LPG yaitu terhadap ujung tubing dan nozzle dikarenakan ada pembekuan (kristalisasi) pas pengaliran LPG berlangsung.

Terdapat dua kemungkinan keberadaan air di dalam LPG, yaitu air yang turut terlarut di dalam LPG dan air yang tak terlarut di dalam LPG. Air yang tak terlarut ini keberadaannya terpisah dari LPG, berwujud air bebas dan pengujiannya pun dilakukan bersama dengan langkah pengamatan visual (dengan mata).

Tahapan pengujian LPG seperti yang telah dijelaskan di atas merupakan pengujian yang umun dilakukan untuk menanggung kualitas LPG serta segi keamanan, dan biasanya tersedia pengujian tambahan sekiranya diperlukan, khususnya sekiranya gas yang diperoleh dari suatu ladang mempunyai sifat tertentu.