Macam-Macam Permainan Tradisional

gobak-sodor

Permainan tradisionil sebagai permainan yang paling dikangenin oleh angkatan 90-an. Pasalnya memang di jaman ini jarang sekali ditemui dimainkan oleh beberapa anak. Ada beberapa faedah dan filosofi yang tersurat dalam permainan tradisionil tersebut. Berikut ialah pemahaman permainan tradisionil dan kenapa disebutkan tradisionil.

Pengertian Permainan Tradisionil

Menurut KBBI, kata “tradisionil” bermakna menurut adat atau tradisi. Dengan pemahaman itu dan dipertemukan dalam kata permainan, karena itu permainan tradisionil ialah permainan yang kuat hubungannya dengan adat warga di tempat dan sesuai tradisi pada sebuah tempat. Sering jadi gagasan lomba permainan ini diselenggarakan untun mengingati hari kemerdekaan 17 Agustus setiap tahunnya.

Lantas apa batasanannya bila dibanding dengan permainan kekinian? Batasanannya ialah permainan tradisionil umumnya menggunakan bahan dan beberapa barang simpel yang banyak ditemui dalam kehidupan setiap hari warga. Misalnya kayu yang dibuat, tongkat kayu, batu bata, dan semacamnya.

Sedang permainan kekinian umumnya dibikin berbahan yang dibikin oleh pabrik atau permainan yang kuat hubungannya dengan perkembangan tehnologi sekarang ini. Seperti mainan bricks, games di handphone, dan lain-lain.

Faedah Permainan Tradisionil

Dari sisi faedah, semua permainan dibikin untuk hilangkan rasa jemu. Tetapi, untuk permainan tradisionil mempunyai nilai plus yang lain, seperti membuat rasa optimis, latih fokus dan kecakapan anggota tubuh, menyambung pertemanan, mengajarkan langkah bekerja bersama sama orang lain, dan mengganti beberapa hal simpel jadi hal yang membahagiakan, benar-benar pas sebagai kegiatan permainan untuk anak SD.

Rerata permainan tradisionil memakai fisik. Benar-benar berlainan dengan permainan kekinian yang semakin banyak bergelut dengan pertajam otak. Dengan permainan yang dikuasai oleh pergerakan fisik, karena itu otomatis olahraga. Berikut kenapa beberapa anak jaman dahulu lebih lincah dibanding anak kecil sekarang ini. Teman dekat dapat memperhatikan sendiri umumnya anak kecil sekarang ini.

Contoh Permainan Tradisionil

permainan tradisional engrang

Ada banyak permainan tradisionil yang dapat Teman dekat temui di Indonesia, karena Indonesia sendiri kaya suku dan tradisi. Tiap suku mempunyai permainan tradisionilnya sendiri.

Tetapi, berikut ialah permainan tradisionil yang lebih umum dan banyak dimainkan oleh beberapa anak jaman dahulu.

Benteng-bentengan

Untuk anak yang lahir tahun 90-an, permainan ini kenal kembali. Bahkan juga di beberapa sekolah umumnya beberapa anak memakai tiang sebagai permisalan bentengnya. Untuk Teman dekat yang belum pahami bagaimanakah cara main benteng-bentengan ialah seperti permainan Mobile Legends.

Langkah permainannya dengan membuat dua group yang setiap group didalamnya 3 sampai lima orang. Setiap group pekerjaannya ialah jaga bentengnya supaya tidak diinvasi oleh group musuh. Anggota group musuh dapat ditahan dengan penjaga bentengnya harus menggenggam benteng dan menggenggam musuh. Anggota group yang anggotanya semua tertawan, dipandang kalah. Benteng yang sukses digenggam/diinvasi oleh musuh, dipandang kalah juga.

Di dalam permainan ini ialah model serang dan bertahan. Serangan yang terlampau agresif dan ceroboh dapat mengakibatkan tertawan. Sedang selalu bertahan tidak baik, karena musuh bisa jadi sukses menggenggam benteng saat anggota team meleng.

Permainan tradisionil benteng-bentengan ini benar-benar kuras energi dan pemroduksi keringat paling baik. Selainnya berkeringat, Teman dekat belajar membuat taktik yang cocok untuk dapat menang dengan group musuh.

Enggrang atau Egrang

Permainan egrang ini tidak cuman dikenali di Indonesia saja, di luar negeri ada juga. Permainan ini latih kecakapan dan kesetimbangan. Penulis sendiri sempat juga bermain egrang tetapi tidaklah sampai kuasai benar.

Teman dekat dapat coba permainan egrang ini dengan tangkai bambu panjang yang dikasih potongan bambu kecil untuk tempat tapakan kaki. Umumnya yang telah mengusai, tapakan kakinya makin jauh dari permukaan tanah.

Dakon atau Congklak

Permainan tradisionil ini bila di wilayah penulis disebutkan dengan dakon. Tetapi, di mayoritas tempat di Indonesia lebih dikenali dengan congklak. Permainan ini memakai biji buah-buahan. Umumnya memakai biji buah sawo.

Ada papan congklak yang berisi 20 lubang yang nanti berisi biji sawo itu. Lubang itu dipisah jadi 2 group. Group pertama, mempunyai satu lubang besar dan sembilan lubang kecil. Begitupun dengan group dua, mempunyai beberapa lubang yang serupa.

Disebutkan menang di permainan dakon ini ialah bila Teman dekat sukses kumpulkan biji sawo pada lubang besar punyai Teman dekat. Bermainnya dengan memutuskan lubang kecil yang mana akan diambil didalamnya. Kemudian, Teman dekat harus membagi satu biji tiap lubang sampai biji yang berada di tangan Teman dekat habis. Di mana biji itu habis ditempatkan, Teman dekat memiliki peluang untuk membagi biji itu kembali. Semacam itu sampai Teman dekat menemui lubang tanpa biji. Bila semacam itu, karena itu gantian musuh lakukan hal sama.

Permainan ini tidak meletihkan fisik, namun tetap meletihkan otak karena harus pikirkan taktik untuk menang. Hal tersebut tidak gampang, karena musuh punyai taktik.

Bola Bekel

Permainan bola bekel ini lebih mengutamakan kecakapan tangan dalam menggenggam bola sekalian bekelnya. Umumnya yang bermain permainan ini ialah wanita. Di dalam permainan ini disebutkan menang bila Teman dekat dapat menggenggam semua buah bekel dan mengaturnya sama sesuai wujud yang serupa. Ada posisi wujud yang disetujui. Setiap wilayah punyai ketentuannya sendiri.

Masak-masakan dengan Daun

Untuk Teman dekat yang sempat dimarahin tetangga karena menghancurkan tanaman tetangga untuk masak-masakan tentu tahu bagaimana serunya permainan ini. Sebagai anak kecil, khayalan benar-benar terasah. Bahkan juga orang dewasa menyaksikannya itu cuman daun yang disobek-sobek. Tetapi, untuk anak kecil itu ialah masakan yang diolah oleh Master Chef.

Permainan tradisionil masak-masakan gunakan daun ini umumnya dilaksanakan oleh wanita. Tetapi, tidak tutup peluang dimainkan oleh lelaki. Umumnya selainnya daun, ada pasir, batu bata yang dilumatkan, dibarengi kerikil yang diikutkan di dalam permainan ini.

Membuat Agar-agar dari Getah Jeruk Bali

Teman dekat pernah membuat ini? Penulis sendiri pernah loh. Umumnya pada musim buah tertentu, dapat didapat jeruk bali pada harga yang relatif murah. Untuk anak kecil, sampah tersisa kulit jeruk bali rupanya tidak dipandang sampah. Bahkan juga ini ialah harga karun.

Untuk lelaki umumnya kulit jeruk bali ini dibikin kapal-kapalan. Ada pula yang membuat mobil-mobilan dengan diberi roda yang tentu saja dari kulit jeruk bali. Untuk anak wanita, lebih berlebihan kembali. Jeruk bali barusan diparut selanjutnya digabung sama air. Parutan kulit jeruk bali itu diperas sampai keluar warna merah mudanya. Kemudian didiamkan beberapa saat. Lama-kelamaannya air perasan barusan akan mengental dan mengeras seperti agar-agar.

Sesudah jadi semacam itu, sudah pasti dibikin mainan bersama rekan-rekan. Umumnya ini sepaket dengan mainan masak-masakan dengan daun.

Lompat Tali

Nyaris anak 90-an pernah memainkan permainan lompat tali ini. Talinya sendiri umumnya dibikin dari karet gelang. Ada yang tidak dirangkap, ada pula yang dirangkap beberapa biji. Penulis sendiri pernah membuat tali lompat ini dari karet yang dirangkap tiga. Argumen dirangkap ialah supaya tidak gampang putus.

Permainan lompat tali ini umumnya diawali dari ketinggian yang rendah, yakni mata kaki. Semakin lama dapat sangat tinggi, sampai dengan tinggi tangan anak kecil yang diangkat ke atas. Teman dekat dapat memikirkan tingginya? Apa dapat dilompati dengan tinggi itu? Berita baiknya ialah dapat. Beberapa anak jaman dahulu betul-betul berlebihan dalam soal permainan tradisionil yang mengikutsertakan fisik.

Itu beberapa jejeran permainan tradisionil yang kerap dimainkan oleh anak yang lahir tahun 90-an. Sebetulnya ada banyak kembali misalnya: kelereng, petak umpet, layang-layang, hompimpah, patil lele, polisi dan maling, permainan tangan panjang pendek, komunikata tradisionil, dan yang lain.