Eksplorasi Migas Minim, Indonesia Terancam Defisit Gas

Indonesia barangkali bakal memasuki masa defisit gas merasa tiga tahun ke depan atau pada 2023. Eksplorasi yang terbatas mengakibatkan memproduksi migas tetap berkurang. Direktur Pembinaan Program Migas Kementerian ESDM Soerjaningsih menjelaskan suplai gas secara nasional bakal turun amat drastis dalam sebagian tahun ke depan. Jika tidak tersedia proyek baru dan rencana pengembangan blok migas yang berjalan, pasokan gas yang tersedia tak bakal cukup mencukupi kebutuhan domestik. “Memenuhi kontrak gas eksisting saja berasal dari 2023 udah tidak mampu

Pemerintah berharap memproduksi migas pada pada proyek eksisting yang mempunyai cadangan cukup besar. Adapun proyek yang bakal menjadi andalan pemerintah yaitu Tangguh Train 3, Masela, dan Indonesia Deep Water Meter BR Development (IDD). “Ada terhitung potensial suplai berasal dari 30 proyek,” kata dia. Namun, Soerjaningsih tidak menyebut besaran potensi suplai gas berasal dari 30 proyek tersebut.

Namun, proyek besar yang menjadi andalan pemerintah, belum pasti sanggup segera produksi. Anggota Badan Anggaran DPR RI Kardaya Warnika menilai investor masih sangsi menanamkan modalnya di Indonesia. Penyebabnya tentang ketidakpastian bisnis yang amat tinggi di Indonesia. Padahal, kepastian hukum merupakan syarat utama. “Dengan adanya kebijakan yang tidak konsisten, investor risau masuk ke negara ini. Kebijakan yang maju mundur itu menakutkan,” kata Kardaya.

Kardaya menyebut investasi di Indonesia tak kembali menarik, muncul berasal dari keluarnya sejumlah perusahaan migas berasal dari Indonesia. “IDD itu kapan datangnya? Investor yang di situ saja udah hengkang apalagi yang baru,” kata Kardaya. Untuk menarik investasi, Kardaya menyarankan pemerintah mengakibatkan kebijakan dan perencanaan yang konsisten. Sebab, kebijakan kekuatan di Indonesia amat sering berubah. Terlalu seringnya pergantian kebijakan mengakibatkan sulitnya investasi untuk eksplorasi. Tanpa tersedia eksplorasi tak tersedia penemuan cadangan migas.

Sedikitnya Temuan Cadangan Migas Baru Defisit gas sesungguhnya cerminan kurangnya upaya menemukan cadangan migas baru. Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi atau SKK Migas mencatat reserve replacement rasio sampai kuartal I 2020 hanya 47,5 MMBOE, atau sebesar 6% berasal dari obyek tahun ini yang sebesar 123%. Cadangan pengganti selanjutnya didapat berasal dari penemuan migas pada kuartal I 2020 yang mencapai 136,5 MMBOE. Penemuan selanjutnya berasal berasal dari potensi minyak di sumur PB-02 sebesar 61,8 MMBO. Kegiatan yang ditunaikan oleh Texcal Mahato itu belum diuji coba.

Selain itu, tersedia penemuan cadangan gas sebesar 79 BCFG berasal dari pengeboran sumur Bronang-02 di Laut Natuna. Medco sebagai operator proyek selanjutnya memproyeksikan sanggup memproduksi gas berasal dari penemuan selanjutnya sebesar 15 mmscfd. Temuan itu merupakan lanjutan berasal dari pengembangan Lapangan Forel yang berpotensi tingkatkan memproduksi sampai 10 ribu bopd.

SKK Migas terhitung mencatat tersedia potensi cadangan gas berasal dari sumur Wolai-02 yang tersedia di Sulawesi. Estimasi memproduksi berasal dari aktivitas yang dioperatori Pertamina EP itu mencapai 13 mmscfd. Sedangkan kuantitas investasi untuk eksplorasi pada tahun ini hanya sebesar US$ 1,2 miliar total investasi hulu migas sebesar US$ 13,8 miliar. Hingga kuartal I 2020, realisasi investasi eksplorasi hanya mencapai US$ 120 juta.

Praktisi Migas Tumbur Parlindungan menjelaskan kurangnya aktivitas eksplorasi di Indonesia mengakibatkan sekurang-kurangnya temuan baru. Untuk tingkatkan aktivitas eksplorasi, pemerintah kudu mengakibatkan iklim investasi migas yang lebih menarik dibandingkan negara lain. Tumbur menyebut pemerintah sesungguhnya udah membenahi aturan industri migas. Namun, pembenahan terhitung ditempuh negara lain. “Negara lain terhitung laksanakan perihal yang mirip atau barangkali lebih baik

Akibat tidak cukup menariknya iklim investasi di Indonesia, Tumbur menyebut, pemanfaatan teknologi terakhir terhitung sulit diimplementasikan. Padahal, pemanfaatan teknologi selamanya diupayakan oleh kontraktor migas cocok keekonomian lapangan. Penggunaan teknologi baru selanjutnya perlu untuk menganalisa information akuisisi dan interpretasi.

Dengan begitu, kontraktor migas sanggup mendapatkan ide baru dalam menemukan cadangan. Agar iklim investasi migas lebih baik, Tumbuh menjelaskan pemerintah kudu menyinkronkan regulasi sehingga tersedia kepastian hukum. Hal selanjutnya baru sanggup terwujud kalau ditunaikan oleh lintas kementerian. Sebab, sektor migas tak hanya terjalin bersama Kementerian ESDM. Selain itu, pelaku bisnis terhitung memerlukan insentif berwujud keringanan pajak. “Hal itu sanggup memecahkan kasus lebih berasal dari 50%,” kata Tumbur.