6 Tips Mengirim Anak Belajar ke Pondok Pesantren

Mewujudkan insan yang Qur’ani, Amali, dan Saintis sehingga mampu mencetak generasi-generasi Qur’ani, Sebelum melanjutkan artikel 6 Tips Mengirim Anak Belajar ke Pondok Pesantren, Sekedar kami info:

Apabila Anda Mendambakan putra/putri untuk menjadi Tahfidz kunjungi website Pondok Pesantren Tahfidz

Bulan Juni sama dengan tahun tuntunan baru, Baca panduan berkaitan pilih sekolah. Panduan dapat didapat dari saudara, rekan, famili, atau siapa saja yang sempat alami. Mengirimi anak belajar pada ponpes tidak dapat mendadak. Orang-tua perlu mempersiapkan jauh-beberapa hari, selanjutnya dua faksi (anak dan ortu) menyetujui.

Kata setuju penting, buat menghindar janganlah sampai mondok putus ditengah-tengah jalan. Ingat belajar dalam pondok, anak perlu tinggal di asrama bertahun tahun. Belajar dalam pondok perlu dipersiapkan lebih. Baik secara psikis atau keuangan, ke-2 nya (setertatih apa saja) perlu searah.

Saya masih ingat saran kepala pondok, pada hari pertama kami memberikan anak. Menurut beliau nyantri itu kuat-kuatan, maknanya orang-tua dan anak (ke-2 nya) perlu sama-sama memperkuat. Apa lagi jika masuk pondok dari tingkatan SMP, notabene anak ada di periode perubahan dari kanak-kanak ke arah puber.

Seiring berjalannya waktu ada anak bertahan setahun, ada pula yang stop di tahun ke-2 . Sementara kita orang-tua maunya, anak bertahan mondok sampai enam tahun. Kebenaran pondok mempunyai tingkatan SMP dan SMA, hingga wali santri tidak ribet hunting sekolah baru.

Mengirimi anak belajar pada pondok, memang perlu dipersiapkan dari jauh-beberapa hari. Ini penting, sambil memperkuat (khususnya) psikis anak. Melatih rutinitas, dari anak masih kecil. Makin serius dan demikian anak naik kelas enam SD. Berikut sejumlah panduan mengirimi anak ke pesantren:

1. Mengajak Bercakap Anak

Memberi pemahaman tempuh pengajaran lewat pesantren. Jika sang anak berpeluang mengelana, jauh dari orang-tua dapat latih kemandirian dan struggling.

2. Orang-tua Buka Wacana

Jika kata orang arif, orang-tua luar biasa untuk anak luar biasa. Saya pahami, jika kita orang-tua perlu mengimbangkan diri dengan keinginan. Maknanya saat ingin mempunyai anak yang soleh dan solehah (hebat), ayah dan ibunya perlu berusaha jadi soleh dan solehah. Bergabung di majelis dan buka info selebarnya, terhitung info mengenai ponpes.

3. Mengikutsertakan Anak dalam Ambil Keputusan

Semenjak anak naik kelas lima, infokan beberapa nama pesantren. Dimulai dari pesantren di luar kota, jabodetabek, atau yang masih juga dalam capaian dari rumah. Tentukan waktu diakhir minggu untuk hunting, bertandang ke pondok sambil membawa serta sang anak.

Dan dari aktivitas ini, kami kumpulkan info tiap pondok yang kami kunjungi. Dimulai dari aktivitas, mekanisme belajar, prestasi pondok, dan (yang terpenting) dana pengajaran. Sesampainya di dalam rumah saya dan istri bercakap, menimbang baik dan tidak pondok dikunjungi dan memprediksi kekuatan kami.

Saat tentukan pondok meminta opini anak. Apa ia berasa nyaman atau mungkin tidak, terhitung dengarkan kemauannya.

4. Mempersiapkan Dana Mondok

Dari hunting ke sejumlah pondok, kami mendapatkan deskripsi segalanya berkaitan belajar mengajarkan dan aktivitas saat di pondok. Menyinggung dana tidak dapat diremehkan, dan sesudah memperbandingkan selanjutnya meruncing ke pondok tertentu, kami makin konsentrasi.

5. Cari Kenalan Ustad atau Wali Santri

Demikian telah tentukan pondok tujuan, seharusnya kita menggenggam satu nama ustad. Maksudnya untuk up-date info berkaitan registrasi, terhitung meminta anjuran opini kira-kira kita belum juga memahami. Demikian juga upayakan mengenal dengan calon wali santri lain, yang punyai arah di pondok yang serupa sama kita. Umumnya kita dapat menjumpai secara tidak menyengaja, saat sama hunting pondok.

6. Sediakan Opsi Alternative

Masuk pondok diisyaratkan dengan test, dan peluang diterima masih fifty- fifty. Seharusnya tidak boleh terdiam pada satu pondok saja, mencari opsi ke-2  dengan grade sama dengan atau imbang dengan opsi pertama. Mengirimi anak belajar pada pondok tentu ada sukai dukanya, tapi kami memandang sebagai sisi proses dari yang perlu ditempuh.